Pencadangan Data dan Keamanan Kini Menjadi Persoalan Ekonomi AI

IDC dalam Global DataSphere Forecast memproyeksikan bahwa volume data global akan melonjak hingga 393,9 zettabyte pada tahun 2028. Lonjakan ini memberikan tekanan yang semakin besar pada kelangsungan bisnis, perlindungan data, tata kelola, serta biaya untuk mempertahankannya.

Kondisi ini mengubah ketahanan (resilience) menjadi isu ekonomi AI. Setiap tambahan dataset yang disimpan dan dilindungi akan meningkatkan biaya, mulai dari penyimpanan, operasi pencadangan data (backup), beban kepatuhan, hingga kualitas AI di hilir, dan kebutuhan remediasi.

Menjelang World Backup Day dan World Cloud Security Day, pertanyaan utamanya bukan lagi apakah organisasi sudah mem-backup lebih banyak data mereka atau menambah kontrol keamanan cloud, melainkan apakah investasi tersebut benar-benar meningkatkan ketahanan bisnis dengan cara yang tetap berkelanjutan secara ekonomi. Backup tidak bisa diperlakukan seperti polis asuransi yang terus diperluas tanpa batas.

Tanpa kebijakan retensi yang jelas dan tata kelola yang kuat, program ketahanan data justru bisa menjadi beban finansial, memperumit operasional, dan sulit dibenarkan dari sisi bisnis. Prioritasnya harus bergeser, yaitu melindungi data yang tepat, dengan tingkat perlindungan yang tepat, untuk memastikan hasil pemulihan (recovery) yang tepat ketika gangguan benar-benar terjadi.

Tantangan ini terasa semakin nyata di pasar digital dengan pertumbuhan tinggi seperti Indonesia, di mana transformasi digital yang pesat telah mendorong ekspansi infrastruktur data besar-besaran. Kapasitas pusat data di Indonesia tercatat meningkat hingga 66% antara tahun 2024 hingga 2025, yang mencerminkan besarnya skala pertumbuhan data di berbagai industri. Namun, di balik lonjakan tersebut, ada risiko yang mengkhawatirkan.

Laporan dari AwanPintar.id menemukan Indonesia mengalami lebih dari 367 juta serangan siber sepanjang tahun 2025, yang sebagian besar didorong oleh upaya pencurian data sensitif dan kredensial untuk melancarkan serangan malware seperti ransomware. Data pemerintah juga menunjukkan bahwa insiden siber pada periode November 2024 hingga Januari 2025 saja telah mengakibatkan kerugian finansial hingga mencapai Rp476 miliar.

Author: tr3v0nbranch

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *